Meminimalisir Budaya menghafal di Kalangan pelajar Indonesia

img-single-page

 

Sekelompok remaja dalam sebuah kelas duduk menghadapi selembar kertas. Beberapa pertanyaan sudah terjawab, tapi masih juga ada yang kosong. Waktu ujian tinggal 15 menit lagi. Mereka memeras otak, mengingat segala hafalan, mulai dari rumus matematika sampai tanggal-tanggal peristiwa bersejarah. Begitulah cara kita mendidik generasi muda, mengajari mereka tentang berbagai ilmu dengan pertanyaan-pertanyaan ringkas.

Pendidikan memang menjadi kunci utama dalam menciptakan benih intelektual masa depan. Negeri ini seolah optimis bahwa pemuda yang dapat mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi, dipercaya berkontribusi besar terhadap kemajuan sumber daya manusia di Indonesia. Alih-alih SDM Indonesia semakin membaik, namun fakta berkata lain, ketika pendidikan di negeri orang telah begitu maju, Indonesia justru mundur ke belakang. Kemunduran ini disebabkan oleh seringnya perubahan sistem pendidikan di Indonesia.

Sistem pendidikan saat ini menuntut pelajar agar dapat menghafal materi yang begitu kompleks. Orientasi yang serba terburu-buru dan instan, pada pencapaian-pencapaian materialistik pendidikan kadang tidak kita sadari. Akibatnya, mulai dari siswa sampai mahasiswa tidak lebih sebagai makhluk robotik, yang bertugas menghafal beberapa baris teori dan rumus. Kita secara tidak sadar menjadi buruh dari sebuah sistem yang tidak pernah kita ketahui dengan jelas arah dan tujuannya. Yang kita tahu hanya satu: segalanya harus dilakukan dengan cepat, bahkan kalau perlu dengan menikung sesama, asal tujuan tercapai.

Guru sebagai pembimbing cenderung akan merasa lebih senang ketika siswa-siswanya dapat menyebutkan materi pelajaran dengan tepat, sama persis sesuai isi buku. Padahal, sekalipun mereka dapat menghafal, belum tentu mereka mampu memahami makna yang lebih penting pada pelajaran tersebut. Kurikulum pendidikan di Indonesia tak ubahnya seperti bunglon, cepat berubah warna menyesuaikan lingkungan. Ketika terjadi pergantian kabinet dalam pemerintah, maka berganti pula aturan pendidikan dalam negeri ini. Wajah corat-marit pendidikan Indonesia seperti inilah yang menjadi salah satu penyebab semakin mundurnya perkembangan dunia pendidikan kita.